Jumat, 01 April 2011

ASAL MUASAL PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Bagaimana alam semesta
berawal
adalah pertanyaan yang
mempesona manusia
sepanjang
jaman. Pada abad ke16
Copernicus
mengemukakan teori
bahwa
matahari tidak
mengelilingi bumi tapi
bumilah yang
justru mengelilingi
matahari. Dia
pun dihukum gantung
karena
dianggap bertentangan
dengan
dogma gereja pada
waktu itu yang
menyatakan bumi
sebagai pusat
alam semesta. Pada abad
ke 17
Galileo Galilei dengan
teleskop
ciptaannya mampu
membuktikan
bahwa bumi mengelilingi
matahari.
Pada tahun 1929 Edwin
Hubble
menciptakan teleskop
Hubble di
abservatoriumnya di
Mountwilson,
California. Setelah
berbulan-bulan
melakukan pengamatan,
dia
menemukan bahwa
bintang-bintang
semakin hari
menunjukkan warna
semakin merah. Dalam
hukum
Fisika dikenal jika benda
semakin
menjauhi titik
pengamatan akan
menunjukkan spectrum
merah,
sedangkan benda yang
mendekati
titik pengamatan
menunjukkan
spectrum biru. Itu artinya
benda-
benda luar angkasa kian
hari
semakin
menjauhi satu sama
lainnya atau
dengan kata lain alam
semesta
semakin meluas.
Edwin Huble kemudian
melakukan
perhitungan mundur.Jika
benda-
benda angkasa semakin
menjauh
berarti dahulunya benda-
benda
angkasa bermula dari
sesuatu
yang padu (satu) dan
kemudian
meledak dengan
kecepatan yang
luar biasa. Menurut
perhitungan
yang cermat para ilmuan
menyimpulkan bahwa
sesuatu yang
padu (satu) itu
haruslah bervolume nol.
Jika suatu
benda bervolume nol itu
artinya
sesuatu itu berawal dari
ketiadaan.
Dengan kata lain sesuatu
yang padu
itu diciptakan. Lalu
muncullah teori yang
sangat
terkenal yang disebut
teori big bang
(ledakan besar).
Sebelum Edwin Huble
menemukan
kenyataan ini, melalui
perhitungan
yang cermat Albert
Einstein
sebenarnya telah
memperhitungkan
bahwa ruang angkasa
tidak statis
melainkan terus meluas,
tetapi
pendapat itu disimpannya
karena
pada waktu itu pendapat
yang
mengatakan bahwa alam
semesta
bersifat statis (tidak
berawal dan
kekal) sangat populer.
Pendapat
tentang alam semesta
statis ini
dikemukakan oleh para
pendukung
materialisme (atheis).
Walaupun Edwin Huble
sudah
menemukan kenyataan
bahwa alam
semesta bersifat meluas
para
pendukung materialisme
tetap tidak
mau mengakui adanya
kebenaran
ini. Mereka tetap
berkeyakinan
bahwa alam semesta
tidak berawal
dan bersifat kekal.
Mereka hendak
mengingkari adanya
penciptaan.
Dengan kata lain mereka
mengingkari adanya
Tuhan yang
menciptakan alam
semesta.
Pendapat mereka ini
sebenarnya
dipengaruhi oleh filsafat
Yunani kuno
yang mengatakan bahwa
materi
tidak berawal dan tidak
berakhir.
Dengan berbagai cara
mereka
menyanggah pendapat
Edwin
Hubble dan Albert
Einstein ini.
Mereka menyanggahnya
dengan
metode filsafat yang
menimbulkan
perdebatan tak berujung.
Di tahun 1948 ahli fisaka
Amerika
George Gemof
mengemukakan
seandainya alam semesta
ini
dulunya adalah satu dan
kemudian
meledak maka pasti
ledakan besar
itu meninggalkan sisa-
sisa radiasi di
ruang angkasa. Pada
tahun 1965
dua orang ilmuan Arnold
Pengias
dan Robert Wilson
menemukan
sisa-sisa radiasi yang
tersebar di
ruang angkasa. Atas
penemuannya
itu, mereka berdua
memperoleh
hadiah Nobel.
Pada tahun 1989 NASA
meluncurkan satelit ke
luar angkasa
untuk meneliti tentang
gejala radiasi
alam semesta. Melalui
sensor-
sensor yang dipasang
disatelit yang
disebut sensor kobe
mereka
menangkap adanya
radiasi sisa-sisa
ledakan besar yang
menyebar
diseluruh ruang angkasa.
Penemuan
ini menghebohkan dunia
dan media
masa. Newsweek bahkan
dalam
sampul majalahnya
menulis :
Science telah
menemukan Tuhan.
Fisikawan Inggris Stephen
Hawking
menyebutkan penemuan
ini sebagai
penemuan terbesar
dalam bidang
astronomi di abad ini
bahkan
mungkin sepanjang masa.
Belakangan salah satu
dari orang-
orang yang menentang
adanya
tuhan mengaku bahwa
mereka
mempertahankan
pendapat alam
statis bukan karena
mereka yakin
akan
kebenaran pendapat
mereka tapi
karena berharap
pendapat mereka
benar sehingga fakta
adanya
penciptaan dan tuhan
dapat mereka
sangkal.
Coba simak dua ayat Al-
Quran
dibawah ini :
“ Dan Apakah orang-
orang yang
kafir tidak mengetahui
bahwasanya
langit dan bumi itu
keduanya dahulu
adalah suatu yang PADU,
kemudian
Kami pisahkan antara
keduanya. dan
dari air Kami jadikan
segala sesuatu
yang hidup. Maka
Mengapakah
mereka tiada juga
beriman ?” (Al
Anbiyaa 21:30)
“ Dan langit itu Kami
bangun dengan
kekuasaan (Kami) dan
Sesungguhnya Kami
benar-benar
berkuasa
MELUASKANNYA ” (Adz
zaariyaat 51:47)
Jika Al Quran itu hanyalah
karangan
Muhammad, lalu
mungkinkah 14
abad yang lalu ketika
ilmu
pengetahuan belum
secanggih
sekarang, seorang
manusia di
tengah gurun yang
gersang di Arab
bisa mengetahui bahwa
alam
semesta diciptakan dari
sesuatu
yang padu dan kemudian
meluas?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar