Selasa, 31 Mei 2011

SEORANG MUSLIM YANG IKHLAS YAITU SEORANG YANG TIDAK MUDAH KECEWA DAN BERPUTUS ASA TERHADAP APA YANG TELAH DI GARISKAN UNTUKNYA

Rukun Iman keenam menyebutkan bahwa umat Muslim wajib mempercayai takdir dan ketentuan Allah SWT (Qada dan Qadar). Artinya, Allah SWT memiliki kuasa penuh atas jagad raya dan isinya, termasuk manusia sebagai salah satu ciptaan-Nya. Sebagai Sang Pencipta, Allah SWT sudah menuliskan takdir atas hambanya jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Oleh karena itu, sebagai manusia kita hanya dapat menyempurnakan ikhtiar dengan melakukan amalan- amalan soleh dengan hati yang ikhlas. Islam menganjurkan umatnya agar ikhlas dalam melakukan segala perbuatan. Ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam menerima jalan hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT. Ikhlas artinya bersih, murni. Ikhlas dalam beribadah dan beramal soleh yaitu semata-mata hanya untuk Allah SWT dan mengharap ridho dari- Nya. Allah sangat mencintai umatnya yang beribadah dengan ikhlas. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-oleh engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.” (HR. Muslim). Ciri seorang mukmin yang ikhlas yaitu tidak mengharapkan pujian dari orang lain. Ia pun tidak mengharapkan balasan yang muluk-muluk dari Allah SWT, melainkan pahala, rahmat, dan ridho dari Alah SWT. Sebaliknya, bila seseorang melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah maka ia akan terjerumus dalam perbuatan dosa, yaitu riya. Rasulullah SAW telah memperingati kita akan penyakit hati ini, “ Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syirik kecil, yaitu riya.” (HR. Ahmad Shahih). Selain ikhlas dalam beribadah dan beramal soleh, ikhlas juga dibutuhkan oleh setiap manusia dalam menerima takdir dan ketentuan Allah SWT. Kesenangan, kesusahan, kehidupan, kematian, dan lain sebagainya merupakan rahasia Allah yang tidak satupun manusia mengetahuinya lebih dulu. Seseorang yang ikhlas berarti ia dapat menerima apa yang telah Allah berikan kepadanya, tentunya setelah ikhtiar yang telah dilakukannya

Senin, 16 Mei 2011

MAKNA MUHASABAH (EVALUASI DIRI)

Dari Syadad bin Aus r.a., dari
Rasulullah saw., bahwa beliau
berkata, ‘Orang yang pandai adalah
yang menghisab (mengevaluasi)
dirinya sendiri serta beramal untuk
kehidupan sesudah kematian.
Sedangkan orang yang lemah
adalah yang dirinya mengikuti hawa
nafsunya serta berangan-angan
terhadap Allah swt. (HR. Imam
Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini
adalah hadits hasan’)
Gambaran Umum Hadits
Hadits di atas menggambarkan
urgensi muhasabah (evaluasi diri)
dalam menjalani kehidupan di dunia
ini. Karena hidup di dunia
merupakan rangkaian dari sebuah
planing dan misi besar seorang
hamba, yaitu menggapai keridhaan
Rab-nya. Dan dalam menjalankan
misi tersebut, seseorang tentunya
harus memiliki visi (ghayah),
perencanaan (ahdaf), strategi
(takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan
evaluasi (muhasabah). Hal terakhir
merupakan pembahasan utama
yang dijelaskan oleh Rasulullah saw.
dalam hadits ini. Bahkan dengan
jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi
dengan kesuksesan, sedangkan
kegagalan dengan mengikuti hawa
nafsu dan banyak angan.
Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah
dengan sabdanya, ‘Orang yang
pandai (sukses) adalah yang
mengevaluasi dirinya serta beramal
untuk kehidupan setelah
kematiannya. ’ Ungkapan sederhana
ini sungguh menggambarkan
sebuah visi yang harus dimiliki
seorang muslim. Sebuah visi yang
membentang bahkan menembus
dimensi kehidupan dunia, yaitu visi
hingga kehidupan setelah kematian.
Seorang muslim tidak seharusnya
hanya berwawasan sempit dan
terbatas, sekedar pemenuhan
keinginan untuk jangka waktu
sesaat. Namun lebih dari itu,
seorang muslim harus memiliki visi
dan planing untuk kehidupannya
yang lebih kekal abadi. Karena orang
sukses adalah yang mampu
mengatur keinginan singkatnya
demi keinginan jangka panjangnya.
Orang bertakwa adalah yang ‘rela’
mengorbankan keinginan
duniawinya, demi tujuan yang lebih
mulia, ‘kebahagian kehidupan
ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt.
seringkali mengingatkan hamba-
hamba-Nya mengenai visi besar ini,
di antaranya adalah dalam QS. Al-
Hasyr (59): 18 –19.
Muhasabah atau evaluasi atas visi
inilah yang digambarkan oleh
Rasulullah saw. sebagai kunci
pertama dari kesuksesan. Selain itu,
Rasulullah saw. juga menjelaskan
kunci kesuksesan yang kedua, yaitu
action after evaluation. Artinya
setelah evaluasi harus ada aksi
perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan
oleh Rasulullah saw. dengan
sabdanya dalam hadits di atas
dengan ’dan beramal untuk
kehidupan sesudah kematian.’
Potongan hadits yang terakhir ini
diungkapkan Rasulullah saw.
langsung setelah penjelasan tentang
muhasabah. Karena muhasabah
juga tidak akan berarti apa-apa tanpa
adanya tindak lanjut atau perbaikan.
Terdapat hal menarik yang tersirat
dari hadits di atas, khususnya dalam
penjelasan Rasulullah saw.
mengenai kesuksesan. Orang yang
pandai senantiasa evaluasi terhadap
amalnya, serta beramal untuk
kehidupan jangka panjangnya yaitu
kehidupan akhirat. Dan evaluasi
tersebut dilakukan untuk
kepentingan dirinya, dalam rangka
peningkatan kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu
kegagalan. Disebut oleh Rasulullah
saw, dengan ‘orang yang lemah’,
memiliki dua ciri mendasar yaitu
orang yang mengikuti hawa
nafsunya, membiarkan hidupnya
tidak memiliki visi, tidak memiliki
planing, tidak ada action dari
planingnya, terlebih-lebih
memuhasabahi perjalanan
hidupnya. Sedangkan yang kedua
adalah memiliki banyak angan-
angan dan khayalan, ’berangan-
angan terhadap Allah.’ Maksudnya,
adalah sebagaimana dikemukakan
oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam
Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut:
Dia (orang yang lemah), bersamaan
dengan lemahnya ketaatannya
kepada Allah dan selalu mengikuti
hawa nafsunya, tidak pernah
meminta ampunan kepada Allah,
bahkan selalu berangan-angan
bahwa Allah akan mengampuni
dosa-dosanya.
Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi setelah
meriwayatkan hadits di atas, juga
meriwayatkan ungkapan Umar bin
Khattab dan juga ungkapan Maimun
bin Mihran mengenai urgensi dari
muhasabah.
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a.
mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian
sebelum kalian dihisab, dan
berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk
hari aradh akbar (yaumul hisab).
Dan bahwasanya hisab itu akan
menjadi ringan pada hari kiamat
bagi orang yang menghisab
(evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’
dan visioner, Umar memahami
benar urgensi dari evaluasi ini. Pada
kalimat terakhir pada ungkapan di
atas, Umar mengatakan bahwa
orang yang biasa mengevaluasi
dirinya akan meringankan hisabnya
di yaumul akhir kelak. Umar paham
bahwa setiap insan akan dihisab,
maka iapun memerintahkan agar
kita menghisab diri kita sebelum
mendapatkan hisab dari Allah swt.
2. Sementara Maimun bin Mihran
r.a. mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan
bertakwa hingga ia menghisab
dirinya sebagaimana dihisab
pengikutnya dari mana makanan
dan pakaiannya ’.
Maimun bin Mihran merupakan
seorang tabiin yang cukup
masyhur. Beliau wafat pada tahun
117 H. Beliaupun sangat memahami
urgensi muhasabah, sehingga beliau
mengaitkan muhasabah dengan
ketakwaan. Seseorang tidak
dikatakan bertakwa, hingga
menghisab (mengevaluasi) dirinya
sendiri. Karena beliau melihat salah
satu ciri orang yang bertakwa
adalah orang yang senantiasa
mengevaluasi amal-amalnya. Dan
orang yang bertakwa, pastilah
memiliki visi, yaitu untuk
mendapatkan ridha Ilahi.
3. Urgensi lain dari muhasabah
adalah karena setiap orang kelak
pada hari akhir akan datang
menghadap Allah swt. dengan
kondisi sendiri-sendiri untuk
mempertanggung jawabkan segala
amal perbuatannya. Allah swt.
menjelaskan dalam Al-Qur ’an: “Dan
tiap-tiap mereka akan datang kepada
Allah pada hari kiamat dengan
sendiri-sendiri. ” [QS. Maryam (19):
95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Aspek-Aspek Yang Perlu
Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu
dimuhasabahi oleh setiap muslim,
agar ia menjadi orang yang pandai
dan sukses.
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi
setiap muslim adalah aspek ibadah.
Karena ibadah merupakan tujuan
utama diciptakannya manusia di
muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat
(51): 56]
2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap
remeh, atau bahkan ditinggalkan
dan ditakpedulikan oleh kebanyakan
kaum muslimin. Karena sebagian
menganggap bahwa aspek ini
adalah urusan duniawi yang tidak
memberikan pengaruh pada aspek
ukhrawinya. Sementara dalam
sebuah hadits, Rasulullah saw.
bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi
Muhammad saw. bahwa beliau
bersabda, ‘Tidak akan bergerak
tapak kaki ibnu Adam pada hari
kiamat, hingga ia ditanya tentang 5
perkara; umurnya untuk apa
dihabiskannya, masa mudanya,
kemana dipergunakannya, hartanya
darimana ia memperolehnya dan ke
mana dibelanjakannya, dan ilmunya
sejauh mana pengamalannya. ’ (HR.
Turmudzi)
3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting
untuk dievaluasi adalah aspek
kehidupan sosial, dalam artian
hubungan muamalah, akhlak dan
adab dengan sesama manusia.
Karena kenyataannya aspek ini juga
sangat penting, sebagaimana yang
digambarkan Rasulullah saw. dalam
sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa
Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah
kalian siapakah orang yang bangkrut
itu ?’ Sahabat menjawab, ‘Orang
yang bangkrut diantara kami adalah
orang yang tidak memiliki dirham
dan tidak memiliki perhiasan. ’
Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang
yang bangkrut dari umatku adalah
orang yang datang pada hari kiamat
dengan (pahala) shalat, puasa dan
zakat, namun ia juga datang dengan
membawa (dosa) menuduh,
mencela, memakan harta orang lain,
memukul (mengintimidasi) orang
lain. Maka orang-orang tersebut
diberikan pahala kebaikan-kebaikan
dirinya. Hingga manakala pahala
kebaikannya telah habis, sebelum
tertunaikan kewajibannya,
diambillah dosa-dosa mereka dan
dicampakkan pada dirinya, lalu dia
pun dicampakkan ke dalam api
neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi
orang yang muflis sebagaimana
digambarkan Rasulullah saw. dalam
hadits di atas. Datang ke akhirat
dengan membawa pahala amal
ibadah yang begitu banyak, namun
bersamaan dengan itu, ia juga
datang ke akhirat dengan membawa
dosa yang terkait dengan
interaksinya yang negatif terhadap
orang lain; mencaci, mencela,
menuduh, memfitnah, memakan
harta tetangganya, mengintimidasi
dsb. Sehingga pahala kebaikannya
habis untuk menutupi
keburukannya. Bahkan karena
kebaikannya tidak cukup untuk
menutupi keburukannya tersebut,
maka dosa-dosa orang-orang yang
dizaliminya tersebut dicampakkan
pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak
memiliki apa-apa, selain hanya dosa
dan dosa, akibat tidak
memperhatikan aspek ini.
Na’udzubillah min dzalik.
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas
untuk dibicarakan. Karena
menyangkut dakwah dalam segala
aspek; sosial, politik, ekonomi, dan
juga substansi dari da ’wah itu
sendiri mengajak orang pada
kebersihan jiwa, akhlaqul karimah,
memakmurkan masjid,
menyempurnakan ibadah,
mengklimakskan kepasrahan abadi
pada ilahi, banyak istighfar dan
taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan
sangat substansial pada evaluasi
aspek dakwah ini yang perlu
dievaluasi adalah, sudah sejauh
mana pihak lain baik dalam skala
fardi maupun jama ’i, merasakan
manisnya dan manfaat dari dakwah
yang telah sekian lama dilakukan?
Jangan sampai sebuah ‘jamaah’
dakwah kehilangan pekerjaannya
yang sangat substansial, yaitu
dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika
dijabarkan, juga akan menjadi lebih
luas. Seperti evaluasi dakwah dalam
bidang tarbiyah dan kaderisasi,
evaluasi dakwah dalam bidang
dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah
dalam bidang siyasi, evaluasi
dakwah dalam bidang iqtishadi,
dsb?
Pada intinya, dakwah harus
dievaluasi, agar harakah dakwah
tidak hanya menjadi simbol yang
substansinya telah beralih pada
sektor lain yang jauh dari nilai-nilai
dakwah itu sendiri. Mudah –
mudahan ayat ini menjadi bahan
evaluasi bagi dakwah yang sama-
sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah
jalan (agama) ku, aku dan orang-
orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah
yang nyata, Maha Suci Allah, dan
aku tiada termasuk orang-orang
yang musyrik ”. [QS. Yusuf (12): 108]
Sumber : http://
www.dakwatuna.com/2007/
makna-muhasabah/

Minggu, 15 Mei 2011

KENAPA DOA TAK TERKABUL??.....

Do’a itu intinya ibadah. Do’a adalah
senjata. Do’a adalah benteng. Do’a
adalah obat. Do’a adalah pintu segala
kebaikan. Begitulah ungkapan yang
menggambarkan dahsyatnya
kekuatan do ’a. Allah, tempat
diarahkannya do’a, memiliki dua
sifat agung, Ar-Rahman dan Ar-
Rahim. Tentang dua sifat itu,
Abdullah Ibnul Mubarak berkata,
“ Ar-Rahman yaitu jika Dia diminta
pasti memberi, sedang Ar-Rahim
yaitu jika tidak dimintai maka Dia
murka." (Fathul Bari 8/155).
Allah swt berfirman, “Katakanlah,
‘Serulah Allah atau serulah Ar-
Rahman. Dengan nama yang mana
saja kamu seru, Dia mempunyai al
asmaul husna (nama-nama yang
terbaik) dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam
shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya, dan carilah jalan
tengah di antara kedua itu." (QS.Al-
lsra ‘: 110).
Ketika berbagai etika dan syarat do’a
dipenuhi dan dilakukan, mungkinkah
do ’a-do’a yang terucap itu tertolak?
Mungkinkah Allah swt tidak
menerima do ’a yang telah
disampaikan secara tulus dan
bersih? Perhatikanlah dialog antara
Saad bin Abi Waqqas dengan
Rasulullah saw. Suatu kali Saad
datang menghadap kepada
Rasulullah. Saad merasa dirinya
sudah lama bermunajat kepada
Allah, namun keinginannya tak
kunjung dikabulkan. Dengan hati
nelangsa, Saad melaporkan
kegundahan hatinya. “Ya, Rasulullah
saw, aku telah berdo’a, tetapi tak
kunjung dikabulkan juga. Adakah
gerangan yang salah?" Rasulullah
pun menjawab, "Hai Saad,
hindarkanlah makanan haram.
Ketahuilah, setiap perut yang diisi
dengan sesuatu yang haram,
sekalipun hanya sesuap nasi, maka
doanya ditolak selama 40 hari. ”
Dalam hidup ini, mungkin kita
pernah mengalami keadaan
sebagaimana yang dirasakan Sa’ad.
Merasa do’a kita belum dikabulkan
Allah. Tetapi, jawabannya, seperti
diriwayatkan Abdullah bin Shamit,
bahwa Rasulullah saw bersabda,
“ Tidak ada di muka bumi ini seorang
muslim yang berdo’a kepada Allah,
kecuali Allah pasti mengabulkan
do ’anya, atau menghindarkannya
dari keburukan, selama ia tidak
berdo ’a untuk sesuatu yang dosa
atau memutuskan silaturahim.”
Seorang sahabat yang
mendengarnya mengatakan, “Kalau
begitu, kita perbanyak saja berdo’a."
Rasul mengatakan, “Walaupun
kamu perbanyak, maka yang disisi
Allah jauh lebih banyak. ” (HR.
Turmudzi’)
Dalam sabda Rasulullah yanq lain,
juga diriwayatkan oleh Imam
Turmudzi, disebutkan, “Tidak ada
seseorang yang berdo’a kepada
Allah dengan sebuah do’a kecuali
pasti dikabulkan, baik dipercepat di
dunia atau ditabung untuknya di
akhirat, atau dihapuskan darinya
dosa-dosanya sebatas apa yang ia
do ’akan kepada Allah dan selama ia
tidak berdo’a untuk sebuah dosa
atau memutuskan silaturahim, atau
tergesa-gesa meminta agar do ’anya
segera dikabulkan." Mendengar hal
itu, seorang sahabat mengatakan,
“ Ya Rasulullah, bagaimana
seseorang dikatakan tergesa-gesa
ingin segera do ’anya dikabulkan?"
Rasulullah menjelaskan, “Seperti
orang yang mengatakan: ‘Aku
sudah berdoa kepada Allah tapi Allah
tidak mengabulkan do ’aku."
Ini artinya, ada banyak
kemungkinan yang Allah berikan,
tatkala kita merasa do ’a kita belum
dikabulkan. Pertama, memang tidak
dikabulkan karena tidak cukup syarat
dan adab berdoa. Kedua, sudah
dikabulkan tetapi ditunda
pembalasannya, menjadi semacam
investasi di akhirat. Ketiga, diganti
dengan pahala yang lain
seumpamanya dengan berbagai
kebaikan, misalnya dengan
pengampunan dosa, dihindari dari
marabahaya, dibimbing ke arah
yang baik dan sebagainya.
Perhatikanlah sebuah kisah cukup
populer mengenai seorang
salafushalih bernama Ibrahim bin
Adham, yang suatu ketika berjalan
di tengah pulsar kota Basrah, Irak.
Melihat ulama besar kharismatik
yang langka itu, penduduk Basrah
tidak menyia-nyiakan kesempatan
baik itu untuk bertanya. Ketika itu
masyarakat Basrah sedang dilanda
kemelut sosial yang sangat
melelahkan, dan solusi tak kunjung
ditemukan, bahkan do’a pun terasa
tidak membantu memperbaiki
keadaan. Penduduk Basrah pun
mengadu kepada ulama besar
tersebut, ”Wahai Aba Ishak (nama
panggilan akrab Ibrahim bin
Adham), Allah berfirman dalam Al
Qur ’an agar kami berdoa. Kami
warga Basrah sudah bertahun-
tahun memanjatkan do ’a, tetapi
kenapa doa kami tak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“ Wahai penduduk Basrah, hati kalian
telah mati dalam sepuluh perkara,
bagaimana mungkin do ’a kalian
akan dikabulkan Allah! Kalian
mengakui kekuasaan Allah, tetapi
kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya.
Setiap hari kalian membaca Al
Qur ’an, tetapi kalian tidak
mengamalkan isinya. Kalian selalu
mengaku cinta kepada Rasul, tetapi
kalian meninggalkan pola perilaku
sunnah-sunnahnya. Setiap hari
kalian membaca ta ’awudz,
berlindung kepada Allah dari setan
yang kalian sebut sebagai musuh,
tetapi setiap hari pula kalian
memberi makan setan dan
mengikuti langkahnya. Kalian selalu
menyatakan ingin masuk surga,
tetapi perbuatan kalian justeru
bertentangan dengan keinginan itu.
Katanya kalian takut masuk neraka,
tetapi kalian justeru
menncampakkan dirimu sendiri ke
dalamnya. Kalian mengakui bahwa
maut adalah keniscayaan, tetapi
nyatanya kalian tidak
rnerupersiapkan diri untuk
menghadapinya. Kalian sibuk
mencari-cari kesalahan orang lain,
tetapi terhadap kesalahan diri, kalian
malah tidak mampu melihatnya.
Setiap saat kalian menikmati karunia
Allah, tetapi kalian lupa
mensyukurinya. Kalian sering
rnenguburkan jenazah saudaramu,
tetapi kalinn tidak bia mengambil
pelajaran dari peristiwa itu ”
Terakhir, ia mengatakan, ”Wahai
penduduk Basrah, ingatlah sabda
Nabi: Berdo ’alah kepada Allah, tetapi
kalian harus yakin akan dikabulkan.
Hanya saja kalian harus tahu bahwa
Allah tidak berkenan mengabulkan
do ’a dari hati yang lalai dan main-
main.
Karenanya, camkan baik-baik dalam
lubuk hati kita prinsip bahwa Allah
tidak akan melakukan sesuatu yang
tidak baik bagi hamba-Nya yang
berbuat baik. Prinsip seperti ini akan
menjadikan kita tetap menjaga diri,
memelihara batas-batas perintah
Allah, dalam kondisi apapun. Meski
dalam kondisi harapan tak
terpenuhi, hajat yang tidak
tertunaikan, bahkan musibah yang
secara fisik tidak enak, tugas hamba
Allah adalah semata-mata
berpegang teguh kepada tuntunan
dan perintah Allah. Selebihnya, Allah
pasti akan memberi yang terbaik
untuk kita. Hanya saja, kebaikan
menurut Allah tidak selalu dapat
teraba oleh mata dan pikiran kita. Di
sanalah kenapa Allah berfirman
dalam surat Ali- Imran, ”Bisa jadi
apa yang engkau benci itu baik bagi
kalian. Bisa jadi juga apa yang
engkau sukai itu buruk bagi kalian.
(QS. Al-Baqarah: 216). ”.
Wallahu’alam bishowab.

Senin, 18 April 2011

DIALOG IBLIS VS NABI MUHAMMAD SAW

Allah SWT telah memerintahkan
seorang Malaikat menemui Iblis
supaya dia menghadap
Rasulullah saw untuk memberitahu
segala rahasianya, baik yang disukai
maupun yang dibencinya.
Hikmatnya ialah untuk meninggikan
derajat Nabi Muhammad SAW dan
juga sebagai peringatan dan perisai
kepada umat manusia.
Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis
dan berkata, "Hai Iblis! Bahwa Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Besar
memberi perintah untuk
menghadap
Rasullullah saw. Hendaklah engkau
buka segala rahasiamu dan apapun
yang ditanya Rasulullah hendaklah
engkau jawab dengan sebenar-
benarnya. Jikalau engkau berdusta
walau satu perkataan pun, niscaya
akan terputus semua anggota
badanmu, uratmu, serta disiksa
dengan azab yang amat keras."
Mendengar ucapan Malaikat yang
dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan.
Maka segeralah dia menghadap
Rasulullah SAW dengan menyamar
sebagai seorang tua yang buta
sebelah matanya dan berjanggut
putih 10 helai, panjangnya seperti
ekor lembu. Iblis pun memberi
salam, sehingga 3 kali tidak juga
dijawab oleh Rasulullah saw. Maka
sambut Iblis (alaihi laknat),
"Ya Rasulullah! Mengapa engkau
tidak mejawab salamku? Bukankah
salam itu sangat mulia
di sisi Allah?" Maka jawab Nabi
dengan marah, "Hai Aduwullah
seteru Allah! Kepadaku engkau
menunjukkan kebaikanmu?
Janganlah mencoba menipuku
sebagaimana kau tipu Nabi Adam
a.s sehingga keluar dari syurga,
Habil mati teraniaya dibunuh Qabil
dengan sebab hasutanmu, Nabi
Ayub engkau tiup dengan asap
beracun ketika dia sedang sujud
sembahyang hingga dia sengsara
beberapa lama, kisah Nabi Daud
dengan perempuan Urya, Nabi
Sulaiman meninggalkan kerajaannya
karena engkau menyamar sebagai
isterinya dan begitu juga beberapa
Anbiya dan pendeta yang telah
menanggung sengsara akibat
hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu
sangat mulia di sisi Allah azza
wajalla, cuma salammu saja aku
tidak hendak menjawabnya karena
diharamkan
Allah. Maka aku kenal baik-baik
engkaulah Iblis, raja segala iblis,
syaitan dan jin yang menyamar diri.
Apa kehendakmu datang
menemuiku?"
Taklimat Iblis, "Ya Nabi Allah!
Janganlah engkau marah. Karena
engkau adalah Khatamul Anbiya
maka dapat mengenaliku.
Kedatanganku adalah diperintah
Allah untuk memberitahu segala tipu
dayaku terhadap umatmu dari
zaman Nabi Adam hingga akhir
zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa
yang engkau tanya, aku bersedia
menerangkan satu persatu dengan
sebenarnya, tiadalah aku berani
menyembunyikannya. "
Maka Iblis pun bersumpah
menyebut nama Allah dan berkata,
"Ya Rasulullah! Sekiranya aku
berdusta barang sepatah pun
niscaya hancur leburlah badanku
menjadi abu."
Apabila mendengar sumpah Iblis
itu, Nabi pun tersenyum dan berkata
dalam hatinya, inilah satu peluangku
untuk menyiasati segala
perbuatannya agar didengar oleh
sekalian sahabat yang ada di majlis
ini dan menjadi perisai kepada
seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1):
"Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar
musuhmu dan bagaimana aku
terhadapmu?"
Jawab Iblis:
"Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku
yang paling besar di antara segala
musuhku di muka bumi ini."
Maka Nabi pun
memandang muka Iblis, dan Iblis
pun menggeletar karena ketakutan.
Sambung Iblis, "Ya Khatamul
Anbiya! Ada pun aku dapat
merubah diriku seperti sekalian
manusia, binatang dan lain-lain
hingga rupa dan suara pun tidak
berbeda, kecuali dirimu saja yang
tidak dapat aku tiru karena dicegah
oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu,
maka terbakarlah diriku menjadi
abu. Aku cabut iktikad/niat anak
Adam supaya menjadi kafir karena
engkau berusaha memberi nasihat
dan pengajaran supaya mereka kuat
untuk memeluk agama Islam,
begitu jugalah aku berusaha
menarik mereka kepada kafir,
murtad atau munafik. Aku
akan menarik seluruh umat Islam
dari jalan benar menuju jalan yang
sesat supaya masuk ke dalam
neraka dan kekal di dalamnya
bersamaku."
Pertanyaan Nabi (2):
"Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu
kepada makhluk Allah?"
Jawab Iblis:
"Adalah satu kemajuan bagi
perempuan yang merenggangkan
kedua pahanya kepada lelaki yang
bukan suaminya, setengahnya
hingga mengeluarkan benih yang
salah sifatnya. Aku goda semua
manusia supaya meninggalkan
sholat, terbuai dengan makan
minum, berbuat durhaka, aku
lalaikan dengan harta benda
daripada emas, perak dan permata,
rumahnya, tanahnya, ladangnya
supaya hasilnya dibelanjakan ke
jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang
bercampur antara lelaki dan
perempuan. Disana aku lepaskan
sebesar-besar godaan supaya hilang
peraturan dan minum arak. Apabila
terminum arak itu maka hilanglah
akal, fikiran dan malunya. Lalu aku
ulurkan tali cinta dan terbukalah
beberapa pintu maksiat yang besar,
datang perasaan hasad
dengki hingga kepada pekerjaan
zina. Apabila terjadi kasih antara
mereka, terpaksalah mereka
mencari uang hingga menjadi
penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah
mereka lalu hendak bertaubat atau
berbuat amal ibadat, aku akan rayu
mereka supaya mereka
menangguhkannya.
Bertambah keras aku goda supaya
menambahkan maksiat dan
mengambil isteri orang. Bila kena
goda hatinya, datanglah rasa ria,
takabur, megah, sombong dan
melengahkan amalnya. Bila
pada lidahnya, mereka akan gemar
berdusta, mencela dan mengumpat.
Demikianlah aku goda mereka setiap
saat."
Pertanyaan Nabi (3):
"Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah
payah melakukan pekerjaan yang
tidak mendatangkan faedah bahkan
menambahkan laknat yang besar
serta siksa yang besar di neraka
yang paling bawah? Hai yang
dikutuk Allah! Siapa yang
menjadikanmu? Siapa yang
melanjutkan usiamu? Siapa yang
menerangkan matamu? Siapa yang
memberi pendengaranmu? Siapa
yang memberi kekuatan anggota
badanmu?"
Jawab Iblis:
"Semuanya itu adalah anugerah
daripada Allah Yang Maha Besar
juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur
membuatku menjadi jahat sebesar-
besarnya. Engkau lebih tahu bahwa
Diriku telah beribu-ribu tahun
menjadi ketua seluruh Malaikat dan
pangkatku telah dinaikkan dari satu
langit ke satu langit yang tinggi.
Kemudian Aku tinggal di dunia ini
beribadat bersama sekalian Malaikat
beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT
hendak menjadikan seorang Khalifah
di dunia ini, maka akupun
membantah. Lalu Allah menciptakan
lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan
seluruh Malaikat memberi hormat
kepada lelaki itu, kecuali aku yang
ingkar. Oleh karena itu Allah murka
kepadaku dan wajahku yang
tampan rupawan dan bercahaya itu
bertukar menjadi keji dan kelam.
Aku merasa sakit hati. Kemudian
Allah menjadikan Adam raja di
syurga dan dikurniakan seorang
permaisuri (Siti Hawa) yang
memerintah seluruh bidadari. Aku
bertambah dengki dan dendam
kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu
mereka melalui Siti Hawa yang
menyuruh Adam memakan buah
Khuldi, lalu keduanya diusir dari
syurga ke dunia. Keduanya berpisah
beberapa tahun dan kemudian
dipertemukan Allah (di
Padang Arafah), hingga mereka
mendapat beberapa orang anak.
Kemudian kami hasut anak lelakinya
Qabil supaya membunuh
saudaranya Habil. Itu pun aku masih
tidak puas hati dan berbagai tipu
daya aku lakukan hingga Hari
Kiamat.
Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku
beserta bala tentaraku dengan
mudah dapat naik ke langit untuk
mencuri segala rahasia serta tulisan
yang menyuruh manusia berbuat
ibadat serta balasan pahala dan
syurga mereka. Kemudian aku
turun ke dunia, dan memberitahu
manusia yang lain aripada apa yang
sebenarnya aku dapatkan, dengan
berbagai tipu daya hingga tersesat
dengan berbagai kitab bid'ah dan
carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia
ini, maka aku tidak dibenarkan oleh
Allah untuk naik ke langit serta
mencuri rahasia, kerana banyak
Malaikat yang menjaga di setiap
lapisan pintu langit. Jika aku berkeras
juga hendak naik, maka Malaikat
akan melontarkan anak panah dari
api yang menyala. Sudah banyak
bala tenteraku yang terkena lontaran
Malaikat itu dan semuanya terbakar
menjadi abu. Maka besarlah
kesusahanku dan bala tentaraku
untuk menjalankan tugas
menghasut."
Pertanyaan Nabi (4):
"Hai Iblis! Apakah yang pertama
engkau tipu dari manusia?"
Jawab Iblis:
"Pertama sekali aku palingkan
iktikad / niatnya, imannya kepada
kafir juga ada dari segi perbuatan,
perkataan, kelakuan atau hatinya.
Jika tidak berhasil juga, aku akan
tarik dengan cara mengurangi
pahala. Lama-kelamaan mereka
akan terjerumus mengikut kemauan
jalanku"
Pertanyaan Nabi (5):
"Hai Iblis! Jika umatku sholat karena
Allah, bagaimana keadaanmu?"
Jawab Iblis:
"Sebesar-besarnya kesusahanku.
Gementarlah badanku dan lemah
tulang sendiku. Maka aku kerahkan
berpuluh-puluh iblis datang
menggoda seorang manusia, pada
setiap anggota badannya.
Setengah-setengahny a datang pada
setiap anggota badannya supaya
malas sholat, was-was, terlupa
bilangan rakaatnya, bimbang pada
pekerjaan dunia yang
ditinggalkannya, sentiasa hendak
cepat habis sholatnya, hilang
khusyuknya - matanya sentiasa
menjeling ke kiri kanan, telinganya
senantiasa mendengar orang
bercakap serta bunyi-bunyi yang
lain. Setengah Iblis duduk di
belakang badan orang yang
sembahyang itu supaya dia tidak
kuasa sujud berlama-lama, penat
atau duduk tahiyat dan dalam
hatinya senantiasa hendak cepat
habis sholatnya, itu semua
membawa kepada kurangnya
pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat
menggoda manusia itu, maka aku
sendiri akan menghukum mereka
dengan seberat-berat hukuman."
Pertanyaan Nabi (6):
"Jika umatku membaca Al-Quran
karena Allah, bagaimana
perasaanmu?"
Jawab Iblis:
"Jika mereka membaca Al-Quran
karena Allah, maka rasa terbakarlah
tubuhku, putus-putus segala uratku
lalu aku lari daripadanya. "
Pertanyaan Nabi (7):
"Jika umatku mengerjakan haji
karena Allah, bagaimana
perasaanmu?"
Jawab Iblis:
"Binasalah diriku, gugurlah daging
dan tulangku karena mereka telah
mencukupkan rukun Islamnya."
Pertanyaan Nabi (8):
"Jika umatku berpuasa karena Allah,
bagaimana keadaanmu?"
Jawab Iblis:
"Ya Rasulullah! Inilah bencana yang
paling besar bahayanya kepadaku.
Apabila masuk awal bulan
Ramadhan, maka memancarlah
cahaya Arasy dan Kursi, bahkan
seluruh Malaikat menyambut
dengan suka cita. Bagi
orang yang berpuasa, Allah akan
mengampunkan segala dosa yang
lalu dan digantikan dengan pahala
yang amat besar serta tidak
dicatatkan dosanya selama dia
berpuasa. Yang menghancurkan
hatiku ialah segala isi langit dan
bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang,
burung dan ikan-ikan semuanya
siang malam mendoakan ampunan
bagi orang yang berpuasa. Satu lagi
kemuliaan orang berpuasa ialah
dimerdekakan pada setiap masa dari
azab neraka. Bahkan semua pintu
neraka ditutup manakala semua
pintu syurga dibuka seluas-luasnya,
serta dihembuskan angin dari
bawah Arasy yang bernama Angin
Syirah yang amat lembut ke dalam
syurga. Pada hari umatmu mulai
berpuasa, dengan perintah Allah
datanglah sekalian Malaikat dengan
garangnya menangkapku dan
tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu
dipasung kaki dan tangan dengan
besi panas dan dirantai serta
dimasukkan ke bawah bumi yang
amat dalam. Di sana pula beberapa
azab yang lain telah menunggu
kami. Setelah
habis umatmu berpuasa barulah
aku dilepaskan dengan perintah agar
tidak mengganggu umatmu.
Umatmu sendiri telah merasa
ketenangan berpuasa sebagaimana
mereka bekerja dan
bersahur seorang diri di tengah
malam tanpa rasa takut
dibandingkan
bulan biasa."
Pertanyaan Nabi (9):
"Hai Iblis! Bagaimana seluruh
sahabatku menurutmu?"
Jawab Iblis:
"Seluruh sahabatmu juga adalah
sebesar - besar seteruku. Tiada
upayaku melawannya dan tiada satu
tipu daya yang dapat masuk kepada
mereka. Karena engkau sendiri telah
berkata: "Seluruh sahabatku adalah
seperti bintang di langit, jika kamu
mengikuti mereka, maka kamu akan
mendapat petunjuk." Saidina Abu
Bakar al-Siddiq sebelum
bersamamu, aku tidak dapat
mendekatinya, apalagi setelah
berdampingan denganmu. Dia
begitu percaya atas kebenaranmu
hingga dia menjadi wazirul a'zam.
Bahkan engkau sendiri telah
mengatakan jika ditimbang seluruh
isi dunia ini
dengan amal kebajikan Abu Bakar,
maka akan lebih berat amal
kebajikan Abu Bakar. Tambahan
pula dia telah menjadi mertuamu
karena engkau menikah dengan
anaknya, Saiyidatina Aisyah yang
juga banyak menghafadz Hadits-
haditsmu. Saidina
Umar Al-Khattab pula tidaklah berani
aku pandang wajahnya karena dia
sangat keras menjalankan hukum
syariat Islam dengan seksama. Jika
aku pandang wajahnya, maka
gemetarlah segala tulang sendiku
karena sangat takut. Hal ini karena
imannya sangat kuat apalagi engkau
telah mengatakan, "Jikalau adanya
Nabi sesudah aku maka Umar boleh
menggantikan aku", karena dia
adalah orang harapanmu serta
pandai membedakan antara kafir
dan Islam hingga digelar
'Al-Faruq'.
Saidina Usman Al-Affan lagi, aku
tidak bisa bertemu, karena lidahnya
senantiasa bergerak membaca Al-
Quran. Dia penghulu orang sabar,
penghulu orang mati syahid dan
menjadi menantumu sebanyak dua
kali. Karena taatnya, banyak Malaikat
datang melawat dan memberi
hormat kepadanya karena Malaikat
itu sangat malu kepadanya hingga
engkau mengatakan, "Barang siapa
menulis Bismillahir rahmanir rahim
pada kitab atau kertas-kertas dengan
dakwat merah, nescaya mendapat
pahala seperti pahala Usman mati
syahid."
Saidina Ali Abi Talib pun itu aku
sangat takut karena hebatnya dan
gagahnya dia di medan perang,
tetapi sangat sopan santun, alim
orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin
memandang beliau, maka
terbakarlah kedua mata mereka
karena dia sangat kuat beribadat
serta beliau adalah golongan orang
pertama memeluk agama Islam dan
tidak pernah menundukkan
kepalanya kepada sebarang berhala.
Bergelar 'Ali Karamullahu Wajhahu' -
dimuliakan Allah akan wajahnya dan
juga 'Harimau Allah' dan engkau
sendiri berkata, "Akulah negeri
segala ilmu dan Ali itu pintunya."
Tambahan pula dia menjadi
menantumu, semakin aku ngeri
kepadanya."
Pertanyaan Nabi (10):
"Bagaimana tipu daya engkau
kepada umatku?"
Jawab Iblis:
"Umatmu itu ada tiga macam. Yang
pertama seperti hujan dari langit
yang menghidupkan segala
tumbuhan yaitu ulama yang
memberi nasihat kepada manusia
supaya mengerjakan perintah Allah
serta meninggalkan laranganNya
seperti kata Jibril a.s, "Ulama itu
adalah pelita dunia dan pelita
akhirat."
Yang kedua umat tuan seperti tanah
yaitu orang yang sabar, syukur dan
ridha dengan karunia Allah. Berbuat
amal soleh, tawakal dan kebajikan.
Yang ketiga umatmu seperti Firaun;
terlampau tamak dengan harta
dunia serta dihilangkan amal akhirat.
Maka akupun bersukacita lalu masuk
ke dalam badannya, aku putarkan
hatinya ke lautan durhaka dan aku
hela ke mana saja mengikuti
kehendakku. Jadi dia senantiasa
bimbang kepada dunia dan tidak
hendak menuntut ilmu, tiada masa
beramal ibadat, tidak hendak
mengeluarkan zakat, miskin hendak
beribadat. Lalu aku goda agar minta
kaya dulu,
dan apabila diizinkan Allah dia
menjadi kaya, maka dilupakan
beramal, tidak berzakat seperti
Qarun yang tenggelam dengan
istana mahligainya. Bila umatmu
terkena penyakit tidak sabar dan
tamak, dia senantiasa bimbang akan
hartanya dan setengahnya asyik
hendak merebut dunia harta,
bercakap besar sesama Islam, benci
dan menghina kepada yang miskin,
membelanjakan hartanya untuk
jalan maksiat, tempat judi dan
perempuan lacur."
Prtanyaan Nabi (11):
"Siapa yang serupa dengan
engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang yang meringankan
syariatmu dan membenci orang
belajar agama Islam."
Pertanyaan Nabi (12):
"Siapa yang mencahayakan muka
engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang yang berdosa, bersumpah
bohong, saksi palsu, pemungkir
janji."
Pertanyaan Nabi (13):
"Apakah rahasia engkau kepada
umatku?"
Jawab Iblis:
"Jika seorang Islam pergi buang air
besar serta tidak membaca doa
pelindung syaitan, maka aku gosok-
gosokkan najisnya sendiri ke
badannya tanpa dia sadari."
Pertanyaan Nabi (14):
"Jika umatku bersatu dengan
isterinya, bagaimana hal engkau?"
Jawab Iblis:
"Jika umatmu hendak bersetubuh
dengan isterinya serta membaca
doa pelindung syaitan, maka larilah
aku dari mereka. Jika tidak, aku akan
bersetubuh dahulu dengan isterinya,
dan bercampurlah benihku dengan
benih isterinya. Jika menjadi anak
maka anak itu akan gemar kepada
pekerjaan maksiat, malas pada
kebaikan, durhaka. Ini semua karena
kealpaan ibu bapaknya sendiri.
Begitu juga jika mereka makan
tanpa membaca Bismillah, aku yang
dahulu makan daripadanya.
Walaupun mereka makan, tiadalah
merasa kenyang."
Pertanyaan Nabi (15):
"Dengan jalan apa dapat menolak
tipu daya engkau?"
Jawab Iblis:
"Jika dia berbuat dosa, maka dia
kembali bertaubat kepada Allah,
menangis menyesal akan
perbuatannya. Apabila marah
segeralah mengambil air wudhu',
maka padamlah marahnya."
Pertanyaan Nabi (16):
"Siapakah orang yang paling engkau
lebih sukai?"
Jawab Iblis:
"Lelaki dan perempuan yang tidak
mencukur atau mencabut bulu
ketiak atau bulu ari-ari (bulu
kemaluan) selama 40 hari. Di situlah
aku mengecilkan diri, bersarang,
bergantung, berbuai seperti pijat
pada bulu itu."
Pertanyaan Nabi (17):
"Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang yang tidur meniarap /
telungkup, orang yang matanya
terbuka
(mendusin) di waktu subuh tetapi
menyambung tidur lagi. Lalu aku
lenakan dia hingga terbit fajar.
Demikian jua pada waktu zuhur,
asar, maghrib dan isya', aku
beratkan hatinya untuk
sholat."
Pertanyaan Nabi (18):
"Apakah jalan yang membinasakan
diri engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang yang banyak menyebut
nama Allah, bersedekah dengan
tidak diketahui orang, banyak
bertaubat, banyak tadarus Al-Quran
dan sholat
tengah malam."
Pertanyaan Nabi (19):
"Hai Iblis! Apakah yang
memecahkan mata engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang
yang duduk di dalam masjid serta
beriktikaf di dalamnya"
Pertanyaan Nabi (20):
"Apa lagi yang memecahkan mata
engkau?"
Jawab Iblis:
"Orang yang taat kepada kedua
ibubapanya, mendengar kata
mereka, membantu makan pakaian
mereka
selama mereka hidup, karena
engkau telah bersabda, 'Syurga itu
di bawah tapak kaki ibu'"

Minggu, 17 April 2011

NUBUWAT NABI MUHAMMAD DALAM KITAB INJIL,TAURAT,ZABUR DAN WEDA / VEDA

PERHATIKAN PETIKAN BUKTI
DARI BERITA ALLAH dalam
AYAT tersebut di atas, BERIKUT
INI :
A. Pada Kitab Injil (Kitab Nabi
ISA AS. ) :
Namun benar yang kukatakan ini
kepadamu: Adalah lebih berguna
bagi kamu jika aku pergi. Sebab
jikalau aku tidak pergi, Nabi
penghibur itu tidak akan datang
kepadamu.Tapi jikalau aku pergi,
Aku akan mengutus Dia kepadamu.
Dan kalau Ia datang, Ia akan
menginsyapkan dunia akan dosa,
kebenaran dan penghakiman; akan
dosa karena mereka tetap tidak
percaya kepadaku; akan kebenaran
karena aku akan pergi kepada Bapa
dan kamu tidak melihat aku lagi;
akan penghakiman karena penguasa
dunia ini telah dihukum. Masih
banyak hal yang harus kukatakan
kepadamu , tetapi sekarang kamu
belum dapat menangungnya. Tetapi
apabila Ia datang, yaitu Roh
Kebenaran, Ia akan memimpin
kamu kedalam seluruh kebenaran;
sebab Ia tidak akan berkata-kata dari
dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu
yang didengarnya itulah yang akan
dikatakannya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal
yang akan datang. Ia akan
memuliakan Aku, sebab Ia akan
memberitakan kepadamu apa yang
diterimanya daripadaku.
(Injil Yohanes 16 : 7-14).
Ayat diatas merupakan kutipan yg
berisikan informasi mengenai
kehadiran seorang PENGHIBUR
setelah Nabi Isa (Yesus) yang akan
mengambil sebagian hukumnya
dan memuliakan Nabi Isa.
Dalam Injil Barnabas, Nabi Isa
Alaihissalam tidak hanya
menubuwatkan tentang kehadiran
Nabi akhir zaman, tetapi juga
menyebutkan secara lengkap bahwa
namanya adalah Muhammad.
Berikut kutipan KH Moenawar
Chalil dalam buku kunonya yang
berjudul "Kelengkapan Tarikh
Nabi Muhammad SAW" milik
bapak saya yang juga konon
Jendrl.Soedirman pun dulu
menyukai kitab karya KH Moenawar
Chalil ini :
"Barnabas ialah nama seorang
sahabat atau hawariyyun (pembela)
Nabi Isa AS. Injil Barnabas itu adalah
sebuah kitab Injil yang ditulis oleh
Barnabas sendiri dari wasiat Nabi Isa
sendiri. Maka isi Injil Barnabas itu
satu-satunya kitab Injil yang isinya
berlainan dari kitab Injil yang lain.
Misalnya tentang ayat-ayat yang
memberitakan akan datangnya Nabi
Muhammad SAW dengan jelas,
kemudian peristiwa penyaliban Isa
melainkan yang disalib adalah
Yudas.Karena isinya berbeda
dengan Injil Paulus, maka para
pengikut Paulus tidak mau
mengakui isi dari Injil Barnabas ini.
Sepanjang riwayat oleh persidangan
para pemimpin gereja abad ke-3
Masehi telah diputuskan tidak boleh
dipakai (diikuti oleh para pengikut
Kristen). Pula pada akhir abad ke-5
M sebelum Nabi Muhammad
dibangkitkan, seorang Paus di Roma
telah menyatakan haram untuk
membaca beberapa kitab agama
termasuk diantaranya ialah Injil
Barnabas.
Ada sebuah naskah Injil Barnabas itu
diketemukan di dengan bahasa Italia
Kuno tersimpan di gedung buku
Vatikan. Kemudian naskah tersebut
diambil oleh seorang pendeta
Kristen bernama Moreno pada akhir
abad ke-16 M. Naskah inilah yang
kemudian diterjemahkan kedalam
bahasa Inggris lalu pada tahun 1325
H, naskah tersebut diterjemahkan
kedalam bahasa Arab oleh Dr. Khalil
Bek Sa'adah, seorang terpelajar
berkebangsaan Egypt (Mesir). Ayat
Injil Barnabas yang dikutip disini
merupakan hasil kutipan dari kitab
tafsir Al Manaar jilid III karya Sayyid
Muhammad Rasyid Ridha dan
beberapa yang dikutip dari Syekh
Thantawy dalam kitab tafsirnya Al
Jawaahir Jilid I dan beberapa jilid
lainnya.
Barnabas fasal 72, sesudah Al Masih
memberitahukan kepada
Hawariyyun bahwa beliau akan
meninggalkan alam dunia kemudian
beliau berkata :
7. "Maka ketika itu menangislah para
utusan Yesus sambil berkata:
"Wahai Guru ! Mengapa engkau
akan meninggalkan kami jika
demikian bahwa kami merasa mati
lebih baik bagi kami daripada engkau
tinggalkan".
8. Yesus berkata: "Janganlah hatimu
bergoncang dan jangan kamu takut,
karena sesungguhnya aku ini bukan
yang menjadikan kamu, tetapi Allah
yang menjadikan kamu. Dia yang
memelihara kamu."
10. "Adapun tentang tugasku,
sesungguhnya aku datang untuk
menyediakan jalan bagi RASUL
ALLAH yang akan datang dengan
membawa tugas kelepasan alam
ini".
11. "Akan tetapi awaslah olehmu jika
kamu akan ditipu orang, karena
sesungguhnya akan datang
beberapa orang Nabi yang palsu;
mereka akan mengambil
perkataanku dan mengotori injilku".
12. Ketika itu Andarawus berkata:
"Wahai Guru, sebutkanlah bagi kami
satu tanda supaya kami kenal
dia ?"13. Jawab Yesus:
"Sesungguhnya dia tidak akan
datang pada masa kamu ini, tetapi ia
akan datang kelak berbilang tahun di
belakang kamu, yaitu waktu Injilku
ini dirusakkan dan hampir tidak
terdapat lagi tiga puluh orang yang
beriman".
14. "Pada waktu itulah Allah me-
rahmati alam ini; maka diutusNyalah
seorang utusan yang dimana
AWAN PUTIH AKAN
MENAUNGINYA*, mengenal dia
seorang hamba yang dipilih Allah,
dan ia akan menampakkannya
kepada seluruh alam".
15. "Dan ia akan datang membawa
kekuatan yang besar untuk
mengalahkan orang yang berbuat
durhaka, dan dia akan menghapus
penyembahan berhala dari dunia
ini".
16. "Dan sesungguhnya aku
gembira dengan yang demikian,
karena dengan perantaraannya Allah
akan dimuliakan orang dan dia
menampakkan kebenaranku".
17. "Dan dia akan memurkai orang-
orang yang berkata bahwa aku
(Yesus) lebih besar dan lebih tinggi
dari manusia".
22. "Dan ia akan datang membawa
kebenaran lebih jelas daripada
keterangan oleh para Nabi yang lain;
dan ia akan membenci orang yang
berlaku tidak baik".
*Ketika Muhammad berusia 12
tahun, ia diajak pamannya Abu
Thalib berdagang ke negeri Syam,
dalam perjalanan tersebut ia selau
dinaungi awan putih dan kemudian
bertemu dengan seorang pendeta
nasrani bernama Bakhiraa.
Kemudian pendeta ini mengamati
secara mendalam sosok
Muhammad dan awan putih yang
menaunginya. Kemudian ia
berpesan agar berhati-hati terhadap
orang Yahudi karena anak ini kelak
akan menjadi Rasul penutup zaman.
Banabas fasal 97 ayat:
6. Yesus berkata: "Dan bahwasanya
yang mengembirakan aku, ialah
agamanya tidak akan berkesudahan,
karena Allah akan memeliharanya
benar-benar".
7. Kahin berkata: "Apakah akan
datang lagi kemudiannya nabi-nabi
setelah Rasul Allah itu datang ?"
8. Yesus menjawab: "Tidak akan
datang lagi kemudiannya nabi-nabi
yang benar-benar diutus Allah".
14. Kahin berkata: "Apakah yang
dinamakan MESIYA itu ? Dan apakah
tanda yang memberitahukan
kedatangannya ?"
15. Yesus berkata: "Sesungguhnya
nama MESIYA itu amat
mengherankan, karena Allah sendiri
yang menamakannya tatkala
menciptakannya, karena Allah
sendiri yang menamakannya tatkala
menciptakannya, dan Dia telah
meletakkan nama itu disatu tempat
yang indah di langit."
16. Sabda Allah: "Sabarlah olehmu
hai MUHAMMAD, karena
sesungguhnya Aku lantaran
engkaulah Aku hendak menjadikan
surga dan alam dunia ini, dan
sejumlah besar dari pada makhluk
yang Aku berikan kepada engkau,
sehingga siapa-siapa yang
memberkati engkau, ia akan
diberkati, dan siapa-siapa yang
melaknati engkau, ia akan dilaknati.
17. "Dan apabila Aku mengutus
engkau kepada dunia, Aku
menjadikan engkau utusan-Ku
untuk memberi kelepasan, dan
adalah perkataanmu yang benar,
hingga langit dan bumi hancur
luluh, tetapi iman engkau tidak akan
hancur luluh."
18. "Bahwasanya nama yang
diberkati itu adalah MUHAMMAD".
19. "Ketika itu orang banyak sama
mengangkat suaranya: "Ya Allah !
Utuslah oleh-Mu utusan-Mu kepada
kami ! Ya Muhammad, marilah
segera datang untuk melepaskan
alam dunia ini".
C. Pada Kitab Taurat (Kiatab Nabi
MUSA AS.) :
Ulangan 18:15 yang berbunyi :
"Seorang nabi dari tengah-
tengahmu, dari antara saudara-
saudaramu, sama seperti aku, akan
dibangkitkan bagimu oleh TUHAN,
Allahmu; dialah yang harus kamu
dengarkan."
[Haggai2: 8-10] yang berbunyi :
Nubuat nabi Haggai yang hidup
sekitar tahun 520 sebelum
masehi,'Dan Aku akan
menggoncangkan semua bangsa,
dan HIMADA untuk semua bangsa
ini akan datang,.........Aku akan
memberikan Syalom,kata tuhan
pemilik rumah'
[Yeremia 28:9] : "Nabi yang
bernubuat tentang Islam [Syalom],
saat datangnya sabda Nabi,nabi itu
akan diakui benar-benar telah diutus
oleh Tuhan."
[Himdath, hamad, hmd,himada
mempunyai arti yang sama dengan
Ahmad, Muhammad dalam bahasa
Arab. Dan Syalom mempunyai
padanan kata yang tepat dengan
Islam]
Bukankah telah dikatakan Musa:
Tuhan Allah akan membangkitkan
bagimu seorang nabi dari antara
saudara-saudaramu, sama seperti
aku. Dengarkan dia dalam segala
sesuatu yang akan dikatakan
kepadamu." (Kisah 3)
Song of Solomon 5:16
chk·u mmthqim u·kl·u MCHMDIM ze
dud·i u·ze ro·i bnuth irushlm
terjemahan: "Tutur katanya lembut
halus budi bahasa, dia bernama
Muhammad. Seperti itulah orang
yang sangat kucintai, demikianlah
temanku itu[sesama Rasul Allah]
wahai masyarakat Israel."
Dan apabila kitab itu diberikan
kepada seorang yang tidak dapat
membaca dengan
mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka
ia akan menjawab:“Aku tidak dapat
membaca.” (Yesaya 29:12)
(lihat sejarah ketika Nabi Muhammad
menerima ayat pertama dalam Al-
Quran)
Seorang nabi akan Kubangkitkan
bagi Mereka dari antara saudara
mereka, seperti engkau ini, dan Aku
akan menaruh firmanku dalam
mulutnya (Ulangan 18:18)
C. Pada Kitab WEDHA (Kiatab
Umat Hindu) :
Prof. WAID BARKASH (penulis
buku) yang masih berstatus pendeta
besar kaum Brahmana mengatakan
bahwa ia telah menyerahkan hasil
kajiannya kepada delapan pendeta
besar kaum Hindu dan mereka
semuanya menyetujui kesimpulan
dan ajakan yang telah dinyatakan di
dalam buku. Semua kriteria yang
disebutkan dalam buku suci kaum
Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri
"KALKY AUTAR" sama persis
dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh
Rasulullah Saw.
Dalam ajaran Hindu disebutkan
mengenai ciri KALKY AUTAR
diantaranya, bahwa dia akan
dilahirkan di jazirah, bapaknya
bernama SYANUYIHKAT dan ibunya
bernama SUMANEB. Dalam bahasa
sansekerta kata SYANUYIHKAT
adalah paduan dua kata yaitu
SYANU artinya ALLAH sedangkan
YAHKAT artinya anak laki atau
hamba yang dalam bahasa Arab
disebut ABDUN.
Dengan demikian kata
SYANUYIHKAT artinya "ABDULLAH".
Demikian juga kata SUMANEB yang
dalam bahasa sansekerta artinya
AMANA atau AMAN yang
terjemahan bahasa Arabnya
"AMINAH". Sementara semua orang
tahu bahwa nama bapak Rasulullah
Saw adalah ABDULLAH dan nama
ibunya AMINAH.
Dalam kitab Wedha juga disebutkan
bahwa Tuhan akan mengirim
utusan-Nya kedalam sebuah goa
untuk mengajarkan KALKY AUTAR
(Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita
yang disebut dalam kitab Wedha ini
mengingatkan akan kejadian di Gua
Hira saat Rasulullah Saw didatangi
malaikat Jibril untuk mengajarkan
kepadanya wahyu tentang Islam.
Bukti lain yang dikemukakan oleh
Prof Barkash bahwa kitab Wedha
juga menceritakan bahwa Tuhan
akan memberikan Kalky Autar
seekor kuda yang larinya sangat
cepat yang membawa kalky Autar
mengelilingi tujuh lapis langit. Ini
merupakan isyarat langsung
kejadian Isra' Mi'raj dimana Rasullah
Saw mengendarai Buroq.

Rabu, 13 April 2011

ALQURAN DAN HADIST TENTANG KEUTAMAAN DAN TUJUAN MEMBANGUN BAHTERA RUMAH TANGGA

“Sesungguhnya, apabila seorang
suami memandang
isterinya (dengan kasih & sayang)
dan isterinya juga
memandang suaminya (dengan
kasih & sayang), maka
Allah akan memandang keduanya
dengan pandangan kasih &
sayang. Dan apabila seorang suami
memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang)
maka berjatuhanlah
dosa-dosa dari segala jemari
keduanya” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan
orang yang sudah
berkeluarga lebih baik, daripada 70
rakaat yang
diamalkan oleh jejaka (atau
perawan )” (HR. Ibnu Ady
dalam kitab Al Kamil dari Abu
Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda
kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya
diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berpikir ” (Ar-Ruum
21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang
sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak
(menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-
hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN
ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA.
Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha
Mengetahui. ”
(An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan
berpasang-pasangan,
supaya kamu mengingat kebesaran
Allah ” (Adz Dzariyaat
49)
“Janganlah kalian mendekati zina,
karena zina itu
perbuatan keji dan suatu jalan yang
buruk ” (Al-Isra
32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari
satu orang,
kemudian darinya Dia menciptakan
istrinya, agar
menjadi cocok dan tenteram
kepadanya ” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah
buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-
wanita yang baik (pula )”
(An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin)
kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian dengan
penuh kerelaan ” ( An
Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa
yang tidak suka,
bukan golonganku” (HR. Ibnu
Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-
sunnah para Rasul yaitu :
berkasih sayang, memakai
wewangian, bersiwak dan
menikah ” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-
duan (khalwat)
dengan seorang perempuan, karena
pihak ketiga adalah
syaithan ” (HR. Abu Dawud)
“Wahai para pemuda, siapa saja
diantara kalian yang
telah mampu untuk kawin, maka
hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih
dapat menundukkan
pandangan dan lebih menjaga
kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka
hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa
menjadi perisai baginya ”
(HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan
wanita berkhalwat,
sebab syaithan menemaninya.
Janganlah salah seorang di
antara kita berkhalwat, kecuali
wanita itu disertai
mahramnya ” (HR. Imam Bukhari
dan Iman Muslim dari
Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir,
hendaklah tidak melakukan khalwat
dengan seorang
wanita yang tidak disertai
mahramnya, karena
sesungguhnya yang ketiga adalah
syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh
perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan hidup adalah
istri yang
sholihah ” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu
orang yang engkau
senangi agama dan akhlaknya,
maka nikahkanlah ia
(dengan putrimu). Jika kamu tidak
menerima
(lamaran)-nya niscaya terjadi
malapetaka di bumi dan
kerusakan yang luas ” ( H.R. At-
Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang
sholihah oleh
Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya
pada separuh
agamanya. Oleh karena itu,
hendaknya ia bertaqwa pada
separuh yang lain ” (HR. Al-Hakim
dan At-Thohawi)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-
baiknya istri,
apabila dipandang suaminya
menyenangkan, bila
diperintah ia taat, bila suami tidak
ada, ia jaga
harta suaminya dan ia jaga
kehormatan dirinya” (Al
Hadits)
“Tiga golongan yang berhak
ditolong oleh Allah : 1.
Orang yang berjihad / berperang di
jalan Allah. 2.
Budak yang menebus dirinya dari
tuannya. 3. Pemuda / i
yang menikah karena mau
menjauhkan dirinya dari yang
haram ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban
dan Hakim)
“Wahai generasi muda! Bila
diantaramu sudah mampu
menikah hendaklah ia nikah, karena
mata akan lebih
terjaga, kemaluan akan lebih
terpelihara ”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu
Mas ’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang
mencintaimu dan yang
mampu beranak. Sesungguhnya
aku akan membanggakan kamu
sebagai umat yang terbanyak ” (HR.
Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling
membuat keturunanlah
kamu, dan perbanyaklah
(keturunan). Sesungguhnya aku
bangga dengan banyaknya
jumlahmu di tengah
umat yang lain ” (HR. Abdurrazak
dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang
tidak menikah, dan
sehina-hina mayat kalian, adalah
yang tidak menikah ”
(HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling
buruk adalah yang
hidup membujang, dan kematian
kamu semua yang paling
hina adalah kematian orang yang
memilih hidup
membujang ” (HR. Abu Ya¡Â?la dan
Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah
bersabda : Barang
siapa mau bertemu dengan Allah
dalam keadaan bersih
lagi suci, maka kawinkanlah dengan
perempuan
terhormat ” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda :
Kawinkanlah orang-orang
yang masih sendirian diantaramu.
Sesungguhnya, Allah
akan memperbaiki akhlak,
meluaskan rezeki, dan
menambah keluhuran mereka ” (Al
Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan
(putrinya) karena silau
akan kekayaan lelaki meskipun
buruk agama dan
akhlaknya, maka tidak akan pernah
pernikahan itu
dibarakahi-Nya, Siapa yang
menikahi seorang wanita
karena kedudukannya, Allah akan
menambahkan kehinaan kepadanya,
Siapa yang menikahinya karena
kekayaan, Allah hanya akan
memberinya kemiskinan, Siapa
yang menikahi wanita
karena bagus nasabnya, Allah akan
menambahkan
kerendahan padanya, Namun siapa
yang menikah hanya
karena ingin menjaga pandangan
dan nafsunya
atau karena ingin mempererat kasih
sayang, Allah
senantiasa memberi barakah dan
menambah kebarakahan
itu padanya ” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita
karena kecantikannya,
mungkin saja kecantikan itu
membuatmu hina. Jangan
kamu menikahi wanita karena
harta / tahtanya mungkin
saja harta / tahtanya membuatmu
melampaui batas. Akan
tetapi nikahilah wanita karena
agamanya. Sebab,
seorang budak wanita yang shaleh,
meskipun buruk
wajahnya adalah lebih utama ” (HR.
Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi
SAW. telah
bersabda : Sesungguhnya
perempuan itu dinikahi orang
karena agamanya, kedudukan,
hartanya, dan
kecantikannya ; maka pilihlah yang
beragama” (HR.
Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung
barakahnya, adalah yang
paling ringan maharnya ” (HR.
Ahmad, Al Hakim, Al
Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar.
Sesungguhnya kalau
lelaki itu mulia di dunia dan takwa di
sisi Allah,
maka Rasulullah sendiri yang akan
menjadi
wali pernikahannya. ” (HR. Ashhabus
Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang
besar ialah yang
sederhana belanjanya
(maharnya )” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu
Thalhah menikahi Ummu
Sulaim dengan mahar berupa
keIslamannya ” (Ditakhrij
dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun
hanya memotong seekor
kambing. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Rasulullah Saw melarang laki-laki
yang menolak kawin (sebagai
alasan)
untuk beralih kepada ibadah
melulu. ” (HR. Bukhari)
“Sesungguhnya dunia seluruhnya
adalah benda (perhiasan)
dan sebaik-baik benda (perhiasan)
adalah wanita (isteri) yang
sholehah ”. (HR. Muslim)
“Rasulullah Saw bersabda kepada Ali
Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang
janganlah
kamu tunda-tunda pelaksanaannya,
yaitu shalat apabila tiba waktunya,
jenazah bila sudah siap
penguburannya, dan wanita (gadis
atau janda)
bila menemukan laki-laki sepadan
yang meminangnya. ” (HR. Ahmad)
“Seorang janda yang akan dinikahi
harus diajak bermusyawarah
dan bila seorang gadis maka harus
seijinnya (persetujuannya),
dan tanda persetujuan seorang
gadis ialah
diam (ketika ditanya). “(HR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah)
“Kawinilah gadis-gadis,
sesungguhnya mereka lebih sedap
mulutnya
dan lebih banyak melahirkan serta
lebih rela
menerima (pemberian) yang
sedikit. ”(HR. Ath-Thabrani)
“Janganlah seorang isteri memuji-
muji wanita lain di hadapan
suaminya sehingga terbayang bagi
suaminya seolah-olah dia
melihat wanita itu. ” (HR. Bukhari)
“Seorang isteri yang ketika
suaminya wafat meridhoinya maka
dia (isteri itu) akan masuk surga.
“( HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
“Hak suami atas isteri ialah tidak
menjauhi tempat tidur suami
dan memperlakukannya dengan
benar dan jujur, mentaati
perintahnya
dan tidak ke luar (meninggalkan)
rumah kecuali dengan ijin
suaminya,
tidak memasukkan ke rumahnya
orang-orang
yang tidak disukai suaminya. “(HR.
Ath-Thabrani)
“Tidak sah puasa (puasa sunah)
seorang wanita yang suaminya
ada di rumah, kecuali dengan seijin
suaminya. “(Mutafaq’alaih)
“Tidak dibenarkan manusia sujud
kepada manusia, dan
kalau dibenarkan manusia sujud
kepada manusia, aku akan
memerintahkan wanita sujud
kepada suaminya karena
besarnya jasa (hak) suami terhadap
isterinya.”(HR. Ahmad)
“Apabila di antara kamu ada yang
bersenggama dengan isterinya
hendaknya lakukanlah dengan
kesungguhan hati. Apabila selesai
hajatnya sebelum selesai isterinya,
hendaklah dia sabar menunggu
sampai isterinya selesai hajatnya.
“(HR. Abu Ya’la)
“Apabila seorang di antara kamu
menggauli isterinya,
janganlah menghinggapinya seperti
burung
yang bertengger sebentar lalu pergi.
“( HR. Aththusi)
“Seburuk-buruk kedudukan
seseorang di sisi Allah pada
hari kiamat ialah orang yang
menggauli isterinya dan isterinya
menggaulinya dengan cara terbuka
lalu suaminya mengungkapkan
rahasia isterinya kepada orang lain.
“(HR. Muslim)
“Sesungguhnya wanita seumpama
tulang rusuk yang bengkok.
Bila kamu membiarkannya
(bengkok) kamu memperoleh
manfaatnya dan bila kamu berusaha
meluruskannya
maka kamu mematahkannya. “(HR.
Ath-Thahawi)
“Talak (perceraian) adalah suatu
yang halal yang
paling dibenci Allah. “(HR. Abu
Dawud dan Ahmad)
“Ada tiga perkara yang
kesungguhannya adalah
kesungguhan (serius)
dan guraunya (main-main) adalah
kesungguhan (serius), yaitu
perceraian,
nikah dan rujuk. “(HR. Abu Hanifah)
“Apabila suami mengajak isterinya
(bersenggama) lalu isterinya
menolak melayaninya dan suami
sepanjang malam jengkel
maka (isteri) dilaknat malaikat
sampai pagi. “(Mutafaq’alaih)
“Allah tidak akan melihat
(memperhatikan) seorang lelaki
yang
menyetubuhi laki-laki lain
(homoseks) atau yang
menyetubuhi isteri pada duburnya.
“( HR. Tirmidzi)

Selasa, 12 April 2011

JANGANLAH KAMU BERBURUK SANGKA DAN MARAH

· Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Hindarilah oleh kamu sekalian
berburuk sangka karena buruk
sangka adalah ucapan yang paling
dusta. Janganlah kamu sekalian
saling memata-matai yang lain,
janganlah saling mencari-cari aib
yang lain, janganlah kamu saling
bersaing (kemegahan dunia),
janganlah kamu saling mendengki
dan janganlah kamu saling
membenci dan janganlah kamu
saling bermusuhan tetapi jadilah
hamba-hamba Allah yang
bersaudara. (Shahih Muslim
No.4646)
· Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim itu adalah saudara
muslim lainnya, dia tidak boleh
menzaliminya dan
menghinakannya. Barang siapa
yang membantu keperluan
saudaranya, maka Allah akan
memenuhi keperluannya. Barang
siapa yang melapangkan satu
kesusahan seorang muslim, maka
Allah akan melapangkan satu
kesusahan di antara kesusahan-
kesusahan hari kiamat nanti. Dan
barang siapa yang menutupi aib
seorang muslim, maka Allah akan
menutupi aibnya pada hari kiamat.
(Shahih Muslim No.4677)
· Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Bukanlah orang kuat itu dengan
menang bergulat, tetapi orang yang
kuat ialah orang yang dapat
menguasai dirinya ketika marah.
(Shahih Muslim No.4723)
Sumber : Kitab Kebajikan, Silaturahmi Dan
Adab Sopan Santun. http://
opi.110mb.com/haditsweb/muslim/
b45_kebajikan_silaturahmi_dan_adab_sopan_santun.htm
HADITS KEENAM BELAS
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu
sesungguhnya seseorang bertanya
kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi
wa sallam : (Ya Rasulullah)
nasihatilah saya. Beliau bersabda :
Jangan kamu marah. Beliau
menanyakan hal itu berkali-kali.
Maka beliau bersabda : Jangan
engkau marah.
(Riwayat Bukhori )
Pelajaran yang terdapat dalam
hadits :
1. Anjuran bagi setiap muslim untuk
memberikan nasihat dan mengenal
perbuatan-perbuatan kebajikan,
menambah wawasan ilmu yang
bermanfaat serta memberikan
nasihat yang baik.
2. Larangan marah.
3. Dianjurkan untuk mengulangi
pembicaraan hingga pendengar
menyadari pentingnya dan
kedudukannya.
Sumber : Hadits Arba’in An
Nawawi.
http://
haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/
hadits-16-jangan-marah/